Pendekatan Perilaku Kepemimpinan

Pendekatan-pendekatan kesifatan dalam kenyataannya tidak dapat menjelaskan apa yang menyebabkan kepemimpinan efektif. Oleh sebab itu pendekatn prilaku tidak lagi mencoba mencari jawab sifat-sifat pemimpin, tetapi mencoba untuk menentukan apa apa yang dilakukan oleh para pemimpin efektif – bagaimana mereka mendelegasikan tugas, bagaimana mereka berkomunikasi dengan dan bawahan mereka, bagaimana mereka menjalankan tugas-tugas, dan sebagainya. Tidak seperti sifat-sifat, bagaimanapun juga, perilaku-perilaku dapat
dipelajari atau dikembangkan. Sehingga individu-individu dapat dilatih dengan perilaku perilaku kepemimpinan yang tepat agar mampu memimpin lebih efektif.
   Disamping itu, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perilaku-perilaku kepemimpinan yang sesuai dalam suatu situasi tidak perlu harus cocok dalam situasi lain. Sebagai contoh, dalam perusahaan barang-barang konsumsi dengan persaingan yang ketat dibutuhkan keterampilan untuk memotivasi individu-individu secara kreatif, yang mungkin tidak diperlukan oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat spesialisasi tinggi.
  Pendekatan perilaku memusatkan perhatiannya pada dua aspek perilaku kepemimpinan, yaitu fungsi-fungsi dan gaya kepemimpinan. Teori-teori dan penelitian yang paling terkenal adalah: 1). Teori X dan Teori Y dari Douglas McGregor, 2). Studi Michingan oleh ahli psikologi sosial Rensis likert, 3). Kisi-kisi manajerial dari Blake dan Mounton, 4). Studi Ohio State
  • Fungsi- fungsi kepemimpinan
Pendekatan perilaku membahas orientasi atau identifikasi pemimpin. Aspek pertama pendekatan perilaku kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar kelompok berjalan dengan efektif, seseorang harus melakukan dua fungsi utama: 1). Fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas atau pemecahan masalah, dan 2). Fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok atau sosial. Fungsi pertama menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi, dan pendapat. Fungsi kedua mencakup segala sesuatu yang yang dapat membantu kelompok berjalan lebih lancar – persetujuan dengan kelompok lain, pengarahan perbedaan pendapat, dan sebagainya.
  • Gaya kepemimpinan
Pandangan kedua tentang perilaku kepemimpinan memusatkan pada gaya pemimpin dalam hubungannya dengan bawahan. Para peneliti telah mengidentifikasikan dua gaya kepemimpinan: gaya dengan orientasi tugas (task-oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (employee-oriented). Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahansecara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksankan sesuai yang diinginkannya. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan dari pada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Manajer berorientasi karyawan mencoba memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anngota kelompok.
Previous
Next Post »
Orang bijak itu selalu meninggalkan jejak